Ketika bimbingan skripsi, seperti biasanya ada saja obrolan-obrolan yang menginspirasi saya. Tidak hanya berbicara mengenai skripsi, namun pembicaraan yang sering saya lakukan dengan pembimbing juga enyangkut masalah actual. Dari calon presiden, korupsi, sampai kepada mahasiswa.
Ada satu perbincangan dimana saya merasa “disentil” dengan pernyataannya yang singkat : Training team workyang sering dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan / BEM hanya mengajarkan kepada kolusi. Lalu saya bertanya kepadanya, dan kepada diri sendiri. Apakah benar seperti itu atau tidak ?, sepertinya saya harus mengulang kejadian beberapa waktu lalu ketika saya mengikuti PMB dan training yang lain.
Dulu, ketika PMB, beberapa tahun yang lalu. Mahasiswa diharuskan bisa bangga menjadi bagian dari Universitas Padjadjaran dan Fakultasnya. Di fakultas Psikologi, proses PMB menggunakan cara Training. Mahasiswa baru mengikuti pelatihan asertif, emphaty, dan yang paling penting adalah team work. Semua Mahasiswa baru harus KOMPAK. Harus bisa menunjukkan bahwa mereka satu. Satu tujuan, satu persepsi, dan mungkin saja satu kaos. Definisi kompak diidentikkan dengan kesamaan dengan semua orang. Pembelajaran Team work dilakukan dengan simulasi dan games yang menekankan pentingnya bekerja sama dalam kegiatan.
Team Work menekankan pada pencapaian tujuan yang dilakukan secara bersama dengan pembagian peran dan tugas masing-masing. Harapannya adalah semua orang dapat bekerja sama, dengan bagaimanapun caranya. Kata KOMPAK menjadi sangat ampuh untuk membangkitkan kebersamaan. “AYO DONG KITA HARUS KOMPAK”, “JANGAN SAMPAI ANGKATAN ATAS MELIHAT KITA GAK KOMPAK”, dsb. Sehingga dengan mati-matian kita berusaha untuk selalu terlihat kompak. Ke kampus dengan baju yang sama (kotak-kotak) atau kaos putih. Menggunakan tali sepatu yang sama yaitu merah dan terkadang gak matching dengan sepatunya. Dan banyak hal aneh yang hendak disamaratakan.
Emangnya ada yang salah ?, terlihat sekilas memang tidak ada yang salah. Hanya saja bisa jadi ini salah satu pembelajaran kolusi. Tujuan utama untuk mendapatkan suatu hal yang dilakukan secara bersama, tanpa memerdulikan moral atau keberagaman yang ada. Yang penting kompak dan bekerja sama. Tidak masalah dengan caranya yang penting sampai tujuan.
Sebaiknya, dalam sebuah pelatihan yang integrative (contohnya PMB atau training lainnya), Mahasiswa juga diberikan training mengenai moralitas. Lembaga kemahasiswaan juga seharusnya memberikan motivasi untuk memiliki idealisme dan moralitas yang baik. Sehingga kerja sama yang terbentuk bukan hanya sekedar KOMPAK, SAMA, DAN BANGGA dengan jurusannya masing-masing. Tetapi perlu penanaman akan idealisme yang seharusnya dimiliki oleh mahasiswa yang sering disebut sebagai agent of change, creative minority, orang terpelajar, dsb.
Kita mahasiswa adalah bibit pemerintahan selanjutnya. Jika tidak sekarang kita menumbuhkan idealisme akan pentingnya pengabdian diri dan pentingnya moralitas, maka sampai berapa tahun pun Indonesia akan dipimpin oleh orang-orang yang rusak. Tidak perlu sempurna, tetapi pemimpin Indonesia yang layak adalah pemimpin yang memiliki moralitas yang baik. Yang memimpin Indonesia dengan otak yang cerdas, dan hati yang bersih.
Mau menunggu kapan ?, tidak usah menunggu….. KARENA ITU ADA DALAM DIRI KITA…
Tidak usah menunggu pahlawan itu hadir mengatasi semua permasalahan bangsa. Karena boleh jadi, pahlawan itu sudah hadir di tengah-tengah kita, pahlawan itu sudah ada di dekat kita, yaitu SAYA, ANDA, DAN KITA SEMUA (Anis Matta)