Gelap masih menyelimuti desa Cikalong, bintang-bintang masih saja bertaburan di atas langit. Kombinasi dan harmonisasi yang luar biasa bercampur di atas langit. Walaupun hanya sedikit warna yang ada di langit yang gelap, bukan berarti tidak indah. Dengan latar belakang hitam yang memekat, terselip bintik-bintik putih dan kuning berkelap-kelip seperti layaknya ada cahaya yang menyelinap masuk di antara celah ruangan yang gelap. Bulan sabit indah juga tersenyum dengan suasana yang riang. Senyuman yang cukup lebar untuk menemani keindahan secara keseluruhan di jagat yang hitam ini. Dan awan putih yang menyamar dalam kegelapan dan diam merayap terus bergerak menjadikan langit berbentuk seperti tiga dimensi yang sempurna. Sungguh indah…
Semua masih terlelap. Seperti biasanya…. Susah sekali teman-teman KKN dibangunkan untuk bersama sholat shubuh di masjid. Ada beberapa orang yang harus dipaksa untuk bangun supaya tidak melewatkan shubuh pertama di desa Cikalong ini. Kelelahan sehabis perjalanan kemarin memang cukup membuat badan pegal-pegal. Baru terasa ketika baru bangun tidur.
Perlahan mengambil wudhu dengan sedikit air di kamar mandi yang saat ini memasuki musim kemarau. Agak kesulitan memang jika harus mandi atau menggunakan air untuk keperluan pribadi. Harus mengambil air di sumur di belakang kantor desa yang hanya berjarak 50 meter. Perjalanan ke masjid tidak sendiri, setidaknya ada satu orang yang juga bangun. Sambil menyimak gerak-gerik alam mencoba menangkap sesuatu perasaan yang hebat. Di tengah gelap malam dan sedikitnya lampu, mencoba bertafakur dan mensyukuri nikmat apa lagi yang akan didapatkan pada pagi hari ini. Shubuh selalu saja memberikan kenikmatan luar biasa pada hambaNya yang mau bersujud kepadaNya. Janji syurga dan isinya tidak bisa menyaingi keindahan dan keberkahan sholat shubuh.
Wudhu di sini sangat unik. Satu kolam dipakai bersama-sama. Tidak ada air yang langsung mengalir. Air wudhu yang sudah dipakai orang lain terkumpul kembali di dalam kolam. Pertama melihat bingung. Namun sepertinya tidak masalah lagi, tinggal dibiasakan saja.
Agenda hari ini adalah mengikuti pengajian bulanan desa yang dilakukan di salah satu dusun di desa tonjong sari. Namanya dusun Pamijahan. Menurut penuturan pak Sekdes, merupakan dusun terujung dari desa ini. Memiliki jarak tempuh 1 jam perjalanan dengan jalan santai. Kalau jalan cepat mungkin lebih cepat. Agak telat dengan yang direncanakan. Seharusnya sudah sejam yang lalu kita berangkat, ternyata sampai jam 8 pagi ini saja masih ada yang belum mandi. Terpaksa meminta para wanitanya yang berada di rumah yang berbeda untuk menunggu. Sekaligus sarapan dan dandan…
Tepat pukul 8.12 berangkat ke tujuan. Beberapa orang bertanya tentang letaknya. Dan sepertinya hal yang sia-siak ditanyakan. Karena dari semua yang berjalan ke tempat tujuan tidak ada yang tahu di mana letaknya.
“Kalau kata pak sekdes sich 1 jam perjalanan kalau jalannya santai, makanya kita jalannya agak cepat biar cepat sampai”, jawab saya yang tidak tahu menau tentang tujuannya.
Tidak ada lagi komentar. Tidak ada lagi pertanyaan. Semua menikmati perjalanan dengan berbicara satu sama lainnya. Hal yang jarang dilakukan selama pembekalan KKN atau pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tawa, gaduh, riang, masih menyemarak di setengah jam perjalanan. Selanjutnya, mereka mulai menanyakan kembali pertanyaan yang sebenarnya sudha tau jawabannya.
“Des, masih lama gak?”, Tanya mereka
“Mudah-mudahan enggak….”, jawab saya diplomatis. Mau jawab apa lagi. Toh saya tidak mengetahui tempatnya.. hehehe…
Suasana menjadi hening. Perjalanan menjadi cepat. Hanya sedikit tawa dan canda. Semua sudah capek, akan menghabiskan banyak tenaga ketika harus tertawa terbahak-bahak. Tapi tetap saja ada yang punya energy lebih. Uti dan Laras sepertinya memiliki energy lebih dan cadangan battere yang banyak. Buktinya selama perjalanan tetap saja bersuara. Keras pula… gak bisa disuruh diam… lumayan… anggap saja sebagai musik alam yang mengiringi perjalanan seperti suara sapi yang bersuara ketika kita lewat…
Mooooooooo….ooooooo….. Ada sapi menyapa…
Moooooooooo…hahahaha….hahahaha….. Laras pun membalas sapaannya…
Setelah berjalan cukup lama (ternyata lebih yang diperkirakan lagi) sekitar 1,5 jam. Kita disambut bak layaknya bintang film Holywood. Dan kita pun sok kegantengan dan sok artis segala. Menebar pesona dan popularitas dengan senyuman dan salaman. Tapi memang, senyuman mereka memang senyuman yang menghangatkan. Menyambut kami layaknya keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Inilah indahnya sebagai seorang mukmin. Dimanapun berada, hatinya tertaut sebagai saudara. Tanpa ada beban dan paksaan. Menerima dengan sepenuh hati atas seseorang yang tidak kenal sebelumnya.
Acara sudah dimulai. Sepertinya baru dimulai. Suara lantunan tilawah alquran masih terdengar. Berarti acara memang baru saja dimulai. Tilawah dilanjutkan dengan shalawat Rasulullah. Samar-samar mengikuti shalawat yang dibacakan. Menyebar pandangan ke sekeliling untuk melihat wajah-wajah orang-orang desa. Ingin sekali menghapal semua wajah itu. Biar mungkin saja bisa menimbulkan kerinduan untuk terus menjalin silaturahim dengan mereka. Dan barangkali bisa bertemu dengan mereka di suatu hari. Di suatu tempat. Di suatu kegiatan. Minimal dipertemukan dalam surgaNya ALLAH yang begitu luas. Lalu ada acara reunian di surgaNya. Amiin…
Pak kepala desa maju memberikan sambutannya. Jujur hanya sedikit yang dimengerti. Pembicaraan seluruhnya menggunakan bahasa sunda. Sesuatu yang menjadi kesulitan dalam 3 tahun terakhir. Belajar di Bandung tidak memberikan efek dalam pembelajaran bahasa sunda. Mungkin hanya makian dan kata kasar yang bisa saya ingat. Teman kosan sering mengucapkannya. Jadi saya pun dengan mudah mengingatnya… hehehe…. Kepala Desa mulai memperkenalkan kami, sebagai mahasiswa Unpad yang sedang KKN di Desa Tonjong Sari ini. Dan selanjutnya…………
Saya sebagai ketua rombongan juga turut dipersilakan berbicara. Whats?… aduh… sempet bingung… kalau tau seperti ini, seharusnya malam-malam sudah menyiapkan bahan pidato. Atau minimal ada bobodoran sunda yang bisa mencairkan suasana. Benar-benar bingung… apa yang mau disampaikan… sudahlah… yang penting maju aja dulu….
Dengan sedikit grogi mengucapkan salam dan shalawat atas Nabi.
“Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Inna hamdalillah nahmaduhu wa nasta’inu… wa naudzubillahi min sururi anfusina…. Dan seterusnya….
Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah swt… dan seterusnya. Ucapan standar yang dilakukan ketika harus menjadi MC, moderator, pengisi acara, dan pemateri… dan dilanjutkan dengan…
Maaf pak… saya tidak bisa berbahasa sunda. Tapi kalau mendengar orang berbicara sunda… yahh…. Sakedik…sakedik ngartos lah… dengan logat jawa kental…
Semua orang tersenyum, bahkan ada juga yang mengomentari. Alhamdulillah ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Ternyata mereka mengerti juga dengan yang saya bicarakan. Takutnya ketika saya berbicara mereka malah bingung. Alhamdulillah.. sehingga saya bisa melanjutkan perkenalan dan maksud kami di KKN ini dengan sedikit memberikan gambaran kegiatan.
Namun sebelumnya saya sempat berterima kasih dan sedikit mendapatkan hikmah dari scenario Allah yang luar biasa ini…
Saat ini saya sangat bersyukur hadir di sini. Di suasana yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Tidak pernah terencanakan. Namun Allah memiliki rencana yang luar biasa untuk mempertemukan hambanya satu sama lain untuk saling mengenal sehingga bisa memahami satu sama lain dan berharap bermanfaat untuk orang lain. Allah memberikan kelebihan dan kekurangan, namun hal itu bukanlah hal yang harus diperdebatkan. Allah memberikan itu semua agar kita bisa saling mengenal, satu dengan yang lainnya, memahami bahwa kita berbeda, mengajarkan kepada manusia bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan untuk sama. Selain itu pula, sambutan hangat dari bapak-bapak yang hadir pada hari ini juga menunjukkan kekuatan ukhuwah. Walaupun kita tidak kenal satu sama lainnya, namun semua orang yakin dan mau menerima seperti layaknya saudara. Ada sesuatu yang mengikat di antara kita semua yang tidak saling mengenal. Itulah kekuatan mukmin yang menyimpan berjuta senyuman untuk saudaranya…. Allah mempunyai skenarionya sendiri… “
Sambutan dan perkenalan yang saya lakukan tidak panjang. Hanya memakan waktu sepuluh menit. Apakah dimengerti semua atau tidak, saya hanya beharap bisa melanjutkan ukhuwah ini. Acara dilanjutkan dengan pengajian. Hari ini ada tiga pembicara yang bebicara bergantian. Setiap pembicara berbicara 30-45 menit.
Pembicara satu, Alhamdulillah masih dimengerti. Baik bahasan maupun bahasanya. Ceramah pertama yang unik adalah bahasan mengenai surat alfatihah… golongan yang magdub dan dholal (Ghairil magdhu bi ‘alaihim waladhdholiin…) ayat terakhir pada surat alfatihah. Golongan Magdub (sesal) dan dholal (sesat). Sesal karena mempunyai ilmu tapi tidak melakukan amal sedikitpun. Sedangkan dholal, dia melakukan amal tapi sembarangan (tanpa ilmu). Sedikit pernyataan namun mengena. Kita hanya mengetahui artinya tanpa bisa mengaitkan dengan analogi lain. Benar sekali… orang yang rugi adalah orang yang memiliki banyak ilmu tapi sedikit sekali amalnya… Allah murka terhadap orang-orang seperti itu… yang enggan menggunakan ilmunya untuk berbuat sesuatu kepada orang lain. Dan allah juga murka terhadap orang yang melakukan sesuatu tanpa dasar ilmu. Seenaknya saja…. Sholat seenaknya… puasa seenaknya… berbuat baik seenaknya… sholat shubuh yang harusnya dikerjakan shubuh-shubuh tapi seenaknya diganti menjadi jam 7, ketika matahari sudah meninggi. Kalau sholat jam 7 mah sholat murtat (jeMUR panTAT)…. Karena ketika sujud… matahari akan membakar panasnya ke pantat kita… aduh ya Allah… terkadang ingat dulu, ketika sering melakukan sholat shubuh jam 7 pagi… aduh memalukan…
Sepertinya pertemuan-pertemuan di desa selalu berujung pada makan-makan. Alhamdulillah, setidaknya bisa menghemat pengeluaran kali ini… dan akhirnya kita harus pulang… pamit… dan..
Teman-teman mulai gelisah. Memikirkan perjalanan jauh yang melelahkan. Semua minta naik mobil. Sebanyak 26 orang, mau naik apa?. Akhirnya tanya-tanya ke sekdes, dan ada mobil yang bisa dipakai.. mobil kolbak (ini nulisnya gimana sich?), pokokna mah mobil yang sering dipake buat ngangkut sayuran. Yang dibelakangnya kosong.. tapi bayangin aja… 26 orang sekaligus.. apa muat?, mana badannya ada yang 1,5 atau bahkan dua. Jadi itungannya bukan 26 lagi… mungkin 29 atau 29,5 …. Jalan terjal bebatuan menjadika perjalanan lebih menakutkan dibandingkan harus berjalan kaki. Teriakan dan ketakukan menjadi satu. Tidak seenak yang dibayangkan, tapi minimal penderitaan ini bisa diselesaikan dengan cepat. Hanya 15 menit sudah sampai rumah lagi. Tapi pegelnya sama dengan 1 jam perjalanan. Kaki yang harus berdesakan. Pantat yang harus menahan beban. Tangan yang harus mencengkram pegangan.
Hari ini petualangan sudah selesai. Lelah namun menyenangkan. Masih ada saja energy mereka untuk tertawa dan bercanda. Ayo… bersenang-senanglah… kita hanya sebentar disini, jadi puas-puaskanlah…
Hari kedua sudah selesai…. Hilag lagi satu hari untuk bersenang-senang… berharap untuk menyambut hari selanjutnya…. Ayo teman-teman kita rapaaaaaaaaaaaaaatttttt buat besok…. n_n,