Hari Selasa lalu, semua digemparkan dengan sesuatu yang lucu namun aneh. Teman-teman gaduh saat itu, padahal seharusnya pagi yang cerah itu bisa dihiasi dengan suasana riuh rendah tanda syukur akan kenikmatan yang tidak terkira. Bagaimana tidak, ayam yang sedari tadi bersuara ditambah anak-anak kecil yang berjalan sambil menyapa pagi dan juga hari itu merupakan pagi pertama di desa Cikalong, Tasikmalaya ini.
Tapi keindahan itu, disambut hal yang tidak lazim. Teman-teman saya.. yang laki-lakinya… diintip oleh seorang anak kecil-kecil. Pagi itu, teman-teman ingin merasakan nikmatnya pagi dengan pergi ke kamar mandi yang letaknya di belakang kantor desa yang tidak jauh. Kamar mandi yang tidak layak namun cukup untuk sekedar mandi. Sumur yang selalu menemani kamar mandi itu terletak tidak jauh dengan kamar mandi. Bak kamar mandi tidak pernah terisi oleh air karena keringnya daerah itu. Air didapat dengan cara menimba sumur itu. Yang airnya juga tidak banyak. Kamar mandi banyak memiliki celah. Jendela terbuka lebar tanpa ada penghalang sedikitpun. Pintu kamar mandi tidak ada sama sekali. Hanya sedikit tali yang bisa digunakan untuk sekedar menutup.
Tanpa ada curiga sama sekali. Galih mandi dengan senangnya. Ternyata mandi di pedesaan lebih segar dari perkotaan. Minimal udara segar turut membuat hati menjadi senang dan dinginnya air. Byur… byur…. byur… dengan air seadanya mandi. Diirit supaya tidak cepat habis. Lalu sabun mulai disentuh lembut ke badan… namun….
Braakkk… brakkk….
“ih…. banyak…..”, seru anak kecil yang membuka pintu kamar mandi secara tiba-tiba.
Galih panik. Tidak percaya dengan yang baru saja dilihat. Seorang anak kecil laki-laki mengintip dia mandi. Dengan bergidik dan sedikit kesal, Galih menutup pintu. Mungkin baru kali inilah Galih diintip, biasanya mah ngintipin orang….
Eits…. ini bukan cerita Galih saja, tapi Boim, Apit, dan beberapa cowok lainnya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Namun dengan cara yang berbeda. Sangat unik. Ada yang diintipi dari atas, samping, pinggir, serong, dari semua sudut yang ada.
Entah apa yang diinginkan oleh anak kecil seusia 10 tahun itu. Apakah ini bentuk keingintahuannya atau malah ini merupakan sebuah indikasi atas perilaku abnormal. Memang terlalu prematur ketika harus menyatakan anak itu mengarah pada perilaku Voyeurism (perilaku seks dengan melakukan intip sehingga bisa menimbulkan hasrat seks yang tinggi). Kalau memang benar terjadi, apa yang terjadi dalam keluarganya?, apa yang terjadi ?,
Otak ini terus berputar untuk mencari jawaban sedikit untuk hal itu. Selidik dan analisis menjadi hal yang saya lakukan pagi ini. Di hari Kamis ini seharusnya jadwal pemetaan sosial yang sudah dilaksanakan kemaren. Namun saja, saya beserta kelompok sudah dapat menyelesaikan pemetaan itu selama satu hari saja. Sehingga satu hari ini menjadi waktu luang untuk mengerjakan yang lain, yang tentunya berkaitan dengan KKN. Mungkin saja mau mencoba untuk menulis. Menulis jurnal harian yang saya lakukan setiap harinya. Mungkin saja ini bisa memudahkan saya ketika nanti harus membuat laporan individu KKN. Dan sudah beberapa hari memang sangat sulit untuk menulis. Karena padatnya rapat dan sosialisasi ke warga menyebabkan sulit untuk menulis catatan harian.
Senang rasanya.. bisa menulis lagi… jari-jari sudah tidak sabar mengetikkan sesuatu. Otak sudah mulai kencang memikirkan yang terjadi selama dua hari ini. Kata-kata terangkai sempurna dengan buaian warna perasaan. Semua tersalurkan dalam hentakan keyboard yang mengalir deras. Wah luar biasa… senang… senang sekali.
Dalam kesenangan yang baru saya dapatkan ini, ada seorang anak kecil yang menghampiri. Melihat-lihat apa yang saya kerjakan. Tidak basa-basi saya langsung menanyakan namanya. Tentunya dengan bahasa sunda… yang agak kaku dan maksa.
“nami na saha ?”, yang hendak menanyakan nama anak itu.
“Tias”, jawabnya singkat
Ternyata anak inilah yang membuat gempar di hari sebelumnya. Anak inilah yang mengintip hampir semua anak cowok. Anak inilah yang membuat saya berpikir panjang saat ini. Ini adalah kesempatan untuk mengetahui apa yang terjadi. Ingin mengetahui apa yang dipikirkannya, ingin tahu… ingin mengerti…
Faktor bahasa menjadi kendala dalam komunikasi dengan anak itu. Bahasa sunda saya pas-pasan. Tidak baik berbicara maupun menyimak. Aneh juga, saya yang ditunjuk menjadi kordes karena sebenarnya akan berpotensi untuk mengalami kesulitan. Benar saja, setiap diminta untuk perkenalan diri dalam sosialisasi ke warga, maka kata-kata awal yang harus saya katakan adalah : “maaf bu, saya tidak bisa bahasa sunda. Tapi kalau denger mah sakedik-sakedik ngartos”.. selalu itu. Maklum saja, walaupun sudah tinggal 4 tahun di lingkungan sunda tapi tidak ada keinginan untuk belajar bahasa sunda.
Ada saja media komunikasi yang dilakukan antara dua manusia yang berbeda. Kesulitan bahasa bukan berarti kita tidak bisa berkomunikasi, bukan berarti kita menarik diri. Ada saja yang bisa kita lakukan. Dengan terbata dan mencoba memahami gerak tubuh menelisik untuk mendapatkan informasi. Yup… saya punya ide.
Saya mengajaknya bermain laptop. Mengajarkannya mengetik kata-kata. Dan dia menceritakannya. Diajarkan sedikit bagaimana menggunakan keyboardnya. Dikenalkan enter, backspace, space, dan sebagainya. Akhirnya dia mulai menuliskan sesuatu.
Saya memintanya untuk menuliskan namanya. Dia mulai mengetikkannya T I A S T I A W A N, itulah yang muncul di layar. Ternyata namanya Tiastiawan, yang dipanggil Tia. Saya minta untuk menuliskan semua nama yang tia kenal. Dan dia mulai melakukannya dengan lamban. Satu-persama mencari huruf yang berada di tuts. Untuk sekedar mengetikan nama pendek. Setiap dia menuliskan nama-nama, saya langsung bertanya, “ini siapa?, dia siapa?”, dan sebagainya. Biarkan dia bicara tentang nama-nama itu semua. Yang nantinya mungkin saja bisa mengetahui kondisi keluarga, dan apa yang sebenarnya terjadi.
Dan… luar biasa…. cara ini bisa ampuh juga. Tidak harus konseling lama-lama untuk mengetahuinya. Kondisi keluarga… kehidupan sehari-hari. Ternyata hal itulah yang menjadi hipotesis dalam pertanyaan kemaren-kemaren mengenai, kenapa dia harus mengintip?, yah… saya mulai sedikit mengetahuinya. Ketika itu, ketika sudah lelah dengan mengetik dan mengingat nama orang lain. Akhirnya dia menuliskan satu kata yang membuat saya kaget. Yang membuat saya terperangah seakan tidak percaya. Kata itu spontan sekali, tidak ada yang dibuat-buat. Lalu ketika saya tanyakan… dia menunjukkan satu kenyataan yang lebih menarik. Ini dia.. sult dimengerti tapi inilah kenyataannya. Tidak ada yang perlu dibahas. Biarkan kenyataan ini menjadi rahasia. Bukan untuk dikonsumsi publik. Mudah-mudahan bisa membantunya…….
Hari ini duduk di teras merenungi apa yang dilakukan selama satu hari ini. Rapat konsep, diskusi program, dan tentunya berbincang dengan anak kecil itu. Jika kemarin lelah fisik, maka hari ini adalah lelah otak. Alhamdulillah masih diberikan kesibukkan ditengah ketidakpastian esok hari.