Hari-hari ini sering disibukkan dengan diskusi yang mungkin saja menjadi pangkal permasalahan hubungan dua orang. Baik itu persahabatan, maupun hubungan dekat lainnya. Dan ketika kita memahami tentang bagaimana wanita atau pria berpikir secara umum, maka harapannya kita bisa saling memahami satu dengan yang lainnya.
Wanita memandang sebuah kejujuran
Jangan remehkan hal ini. Sebagian besar wanita sangat menginginkan kejujuran, walaupun itu akan terasa pahit untuk didengarkan. Semua yang terjadi ingin diketahui. Semua yang ada harus terasa. Tidak boleh ada rahasia dan menimbulkan rasa penasaran. Wanita akan sangat tersiksa jika harus menanggung rasa penasaran. Tidak heran banyak wanita yang bergosip (walaupun sekarang laki-laki juga) karena ingin selalu mengetahui urusan orang lain. Kalau bisa tidak ada tembok yang menghalangi untuk tahu orang lain. Sakit hati ketika ternyata informasi yang diterima salah. Ketika orang lain menyembunyikan sesuatu. Dengar saja ucpaan mereka “ih… kasih tau dong ?”, atau “kamu gak percaya ya sama saya?”, “masa’ saya gak boleh tau sich ?”, “emangnya gak boleh tau yaa?”, dan pertanyaan-pertanyaan yang mengorek informasi sedalamnya…. Jadi jangan terlalu membuat wanita penasaran…
Karena wanita ingin sekali kejujuran, maka dia pun melakukan kejujuran itu pula kepada orang lain. Semua diceritakan kepada orang lain. Baik baik, buruk, dan semua dilakukan dengan curhat. Curhat.. curhat.. dan curhat lagi… wanita selalu ingin jujur terhadap orang lain. Ingin membuka semua cerita kepada orang terdekatnya… sangat mudah untuk meminta kejujuran dari wanita…..jangan meremehkan kejujuran, apalagi ingin menjadikannya sebagai sahabatnya….
Laki-laki dalam memandang sebuah kejujuran.
Laki-laki juga membutuhkan kejujuran, namun tidak seperti wanita. Kejujuran tidak menjadi penting bagi laki-laki. Semua orang tidak perlu tidak perlu tahu semua. Kalau bisa diselesaikan dan dipendam, untuk apa disebarkan kepada orang lain. Mengumbar masalah hanya “menjatuhkan” harga diri di mata orang lain. Apalagi sesuatu yang bisa dibilang “aib”, maka akan mati-matian untuk ditutup rapat dan biarkan menghilang sering berjalannya waktu. Orang lain tidak perlu tahu… siapa saja yang ingin mencoba mencari informasi… maka bersiaplah untuk kecewa. Laki-laki akan menutupi rapat hal yang merusak harga dirinya. Laki-laki malah cenderung untuk tertutup, tidak ingin terbuka. Tidak ingin orang lain tahu. Jika pun ingin terbuka, maka hal-hal yang berkaitan dengan prestasi dan prestisius. Laki-laki akan dengan sukarela menceritakan berbagai penghargaan, prestasi, dan keunggulan diri. Untuk masalah lain, jangan harap… apalagi yang berhubungan dengan selingkuhan, ketidakmampuan, dan kekurangan diri… selain itu, kejujuran juga mungkin membuat “muak” laki-laki. Kadang-kadang malah mempersepsikan rendah pada seseoang yang jujur.. jujur untuk menceritakan semua kejadian. Salah satu contohnya… ada seorang wanita yang jujur karena sedang kesel atau marah, atau hal-hal sepele disampaikan, hanya saja laki-laki memandangnya “Ih koq gini aja disampein ?”, atau “ih… kamu kayak anak kecil aja”, dsb.. atau pikiran-pikiran bahwa tidak pentinglah untuk memikirkan hal kecil itu, masa’ tidak bisa diantisipasi sendiri sehingga harus dilaporkan juga. Inilah mungkin yang menjadikan laki-laki mengagumi wanita, yaitu karena wanita itu bisa bersifat dewasa. Yang bisa mengelola emosi untuk sesuatu yang kecil sehingga tidak memberikan masalah tambahan bagi laki-laki…
Begitu pula pemikiran inilah yang sering digunakan dalam interaksi. Karena laki-laki tidak terlalu memikirkan kejujuran, maka terkadang laki-laki banyak menymbunyikan sesuatu. Apalagi yang mungkin bisa menyakiti hati orang lain. Biar dipendam, makin banyak, makin dalam… jangan harap membuka aib laki-laki…..
Sedikit gambaran yang tidak seluruhnya benar. Namun ketika terjadi masalah, biasanya terjadi karena kita terlalu memaksakan pemikiran kita untuk diterapkan kepada orang lain. Dua insan yang (laki-laki dan perempuan) memiliki perbedaan. Dan terkadang permaslahan itu karena sedikit perbedaan ini. Semua orang berkutat dengan perbedaan yang sebenarnya wajar ada pada dua. Mustahil untuk menghilangkan perbedaan itu…
Jangan takut untuk berinteraksi… dan yakinlah setiap perbedaan pasti ada persamaan… tidak perlu memperbesar perbedaan yang terkadang tidak terlalu penting namun seringkali dianggap sebagai “prinsip”. Tidak akan nyambung ketika wanita memiliki prinsip “harus jujur” sedangkan pria memiliki prinsip “kalau bisa diselesaikan, buat apa disampaikan?”, dan kita terjebak pada prinsip-prinsip yang terkadang menyulitkan diri kita. Carai lah prinsip yang esensi… bukan sekedar egoisme yang dipaksakan.