Pemetaan Sosial cukup memberikan PR yang sangat banyak. Data mengenai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di desa Tonjong Sari harus segera dirangkum dalam bentuk pemetaan permasalahan. Kumpulan permasalahan itulah yang akan nanti dipilih untuk menentukan prioritas mengerjakan program kegiatan di desa itu. Setidaknya masih ada waktu dua hari untuk mempersiapkan program berdasarkan masalah yang ditemukan di lapangan dan menyusunnya dalam bentuk kegiatan. Yup… hari minggu besok adalah lokakarya Kegiatan KKN. Sekarang hari jumat, jadi ada cukup waktu untuk rapat dan terus berkoordinasi. Beruntung memiliki teman-teman KKN yang mau diajak sibuk. Tadinya saya sempat ragu dengan paradigma sebagian teman-teman KKN yang menganggap KKN hanya sekedar Kuralang-Kuriling Nongkrong (alias Keliling-keliling trus nongkrong). Syukurnya itu tidak terjadi di kelompok ini. Setidaknya itu bisa tergambar dari kegiatan pemetaan sosial yang kita lakukan bersama-sama. Walaupun jarak yang harus ditempuh itu jauh, namun mereka tetap memperlihatkan muka seru dan senangnya. Seperti menemukan mainan baru dan keluarga baru. Hari jumat ini, sebenarnya ada dua janji yang sudah dibuat berkaitan dengan sosialisasi dan perkenalan. Pagi hari harus bertemu dengan Pak Camat dan diundang untuk mengikuti pengajian rutinan di salah satu DKM di siang hari bagi yang perempuannya, dan malam hari bagi yang laki-lakinya. Sepertinya mudah sekali untuk sekedar bertemu dengan Pak Camat. Tidak seperti di kota yang sangat sulit ditemui dan penuh birokrasi. Tujuan menemui Pak Camat untuk sekedar sosialisasi dan kemungkinan adanya kegiatan yang dilakukan dalam lingkup kecamatan. Harapannya bisa mendapatkan kemudahan dalam pelaksanaan kegiatan. Wah… kalau begini skenarionya, maka indah sekali. Ternyata Pak Camat sangat mendukung kegiatan. Dengan segenap bantuannya untuk menghubungkan dengan pihak yang berkaitan, dalam hal ini BPP (Balai Penyuluhan Pertanian), bisa langsung dipertemukan hari ini. Membicarakan kegiatan yang kita lakukan bersama, yaitu Penyuluhan Pertanian Organik SRI yang saat ini menjadi fokus pemerintah untuk menggenjot produksi beras. Pulang dari kecamatan jam 10, langsung menuju ke rumah. Ingin segera mengorganisasikan kegiatan ini bersama teman-teman yang lain. Namun, perjalanan pulang tidak semulus yang diharapkan. Motornya rusak, pas tanjakan. Waduh… berat euy… dan tiba-tiba hujan… wah indah betul suasananya.. Di tengah hujan rintik-rintik yang mulai deras. Saya menuntun motor sendiri berharap ada bengkel yang buka. Ternyata jauh juga… harus kembali lagi ke kantor kecamatan, karena di sanalah banyak bengkel motor. Waduh… tapi nikmat toh… malah beginilah yang diharapkan (ups… sombong), ada sedikit tantangan dalam kegiatan yang dilakukan. Huah….. sampe juga…. hujan bukannya berhenti malah tambah deras… wah jadi ngantuk…. Mata mulai redup-redup. Hujan dan angin sepoi-sepoi mengundang untuk segera menutup mata sambil menunggu motor yang sedang diperbaiki. Sesekali melihat wujud motor yang sudah dibongkar rangkanya. Dan mempercayakan semua pada tukang bengkel karena sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang motor. Dalam redup mata itu teringat-ingat tempat lain. Sempat terpikirkan, bagaimana kabar kampus yaa?, atau menerawang ke Jakarta memikirkan kabar keluarga, ibu yang sedang sakit sebelum ditinggalkan KKN, dan kakak yang sedang memulai proses lamaran. Semua rasa bercampur. Ingin rasanya segera pulang, tapi sangat sayang juga harus meninggalkan desa yang indah ini. Setidaknya waktu 40 hari cukup untuk merasakan kehangatan dan sambutan alam desa Tonjong Sari ini. Akan banyak petualang yang bisa didapatkan. Motor sudah selesai. Hanya saja hujan masih belum juga reda. Beberapa kali menghubungi teman yang sedang berada di rumah untuk mengabari bahwa setelah jumatan nanti akan ada pertemuan dengan Ketua BPP yang akan membantu kita dalam kegiatan Penyuluhan Pertanian SRI. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah menunggu… menunggu hujan mempersilakan saya untuk lewat dan melintasi jalannya dengan memberhentikan sedikit hujannya. Hujan sedikit reda. Tidak berpikir panjang untuk menancap motor menerobos hujan rintik itu. Berharap bahwa hujan akan segera berhenti. Dan dengan pelan dan hati-hati mencoba menjejak jalanan yang basah. Jalanan yang berliku dan menanjak maupun menurun turut menyumbangkan kehati-hatian. Di rumah tempat kami tinggal sementara selama 40 hari, ternyata tidak hujan. Hanya mendung terlihat di langit. Seperti ingin memuntahkan air yang ada di kantung-kantung awan itu. Pekat. Setau saya inilah hujan pertama kali selama kami sampai disini. Semua teman-teman sudah siap untuk berangkat ke masjid untuk sholat jumat. Saya pun sholat mengikuti jejak langkah teman-teman yang sudah pergi terlebih dulu. Masjid yang kami tuju adalah masjid Bitung. Masjid sederhana yang tidak jauh dari jalan. Sehingga suasananya tidak bising. Air mengalir di tempat kolam wudhu menambah suasana pedesaan yang kerap disibukkan dengan suara air. Suasana di luar masjid dengan di dalam masjid teramat kontras. Kita dapat segera merasakan keteduhan dan kenyamanan di dalam masjid. Bukankah hampir semua masjid seperti itu… memberikan kedamaian dan ketenangan bagi siapapun yang berada di dalamnya. Makanya tidak heran kalau banyak yang tertidur ketika khotib menyampaikan khutbahnya (hehehe… ini mah emang doyannya tidur). Sholat jumat di sini tidak terlalu lama. Hanya sekitar 15 menit selesai. Selesai sholat, nongkrong di warung depan. Yang menyuguhkan bala-bala dengan ukuran besar namun murah. Sampai kami terlupa ada janji dengan ketua BPP di rumah tempat kami tinggal. Wah senangnya bisa berbicara banyak dengan orang yang memiliki wewenang untuk menggerakkan kelompok tani maupun petani untuk mengikuti kegiatan. Berharap dengan adanya bantuan dari BPP kecamatan ini bisa tersosialisasikan ke semua petani sehingga bisa terasa manfaatnya. Alhamdulillah…. Malam hari… ikut pengajian… lagi-lagi disuruh sosialisasi dan perkenalan. Dan lagi-lagi saya sebagai kordes maju ke depan. Padahal… saya tidak bisa bahasa sunda. Aduh… harus bisa belajar bahasa sunda… kali aja dapat jodoh orang sunda, heheh… Hari yang cukup berat. Tidak direncanakan dan mengalir begitu saja. Namun sangat menyenangkan karena mungkin dengan cara seperti ini kita bisa terus lelah dan capek. Tidak sekedar jalan-jalan dan nongkrong. Alhamdulillah… tidur ah… besok pagi harus rapat… matangkan program kegiatan dan teknisnya…. mudah-mudahan.
Arsip
-
Tulisan Terakhir
Kategori
-
Tulisan Teratas
- Tidak ada
-
Komentar Terakhir
devi di DISONANSI KOGNITIF An Desta di Disaat tidak ada ide menu… Aku Punya dot com di Disaat tidak ada ide menu… An Desta di KAMPANYE NEGATIF, perlu kah… romailprincipe di KAMPANYE NEGATIF, perlu kah… An Desta di Pilpres satu putaran : Apa pul… An Desta di Siapa bilang wanita sulit dime… aswad senorita di Siapa bilang wanita sulit dime… Historina Safitri Ha… di Jodoh dimanakah dirimu ? dir88gun2@yahoo.com di Pilpres satu putaran : Apa pul… Halaman
beasiswa
Blogroll
Meta