Feeds:
Pos
Komentar

Pagi ini cerah. Berharap apa yang dilakukan selama satu hari ini bisa secerah pagi ini. Tadi malam sudah men-jarkom teman-teman untuk rapat di depan balai desa, alias di kediaman laki-laki untuk berbicara mengenai program yang akan dilaksanakan selama satu bulan nanti. Sedikit berbicara mengenai tempat tinggal kami selama 40 hari ke depan. Laki-laki dan perempuan menghuni dua rumah berbeda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Banyak hal yang membuatnya terpisah. Jumlah 26 adalah jumlah yang tidak sedikit untuk menghuni sebuah rumah. Akan sangat padat sekali. Tiga belas laki-laki ‘dititipkan’ kepada seorang warga desa yang baik hati bernama Pak Nuh yang dengan kemurahan hatinya mau menerima anak-anak bangkotan. Rumah pak Nuh tidak besar, namun tingkat. Tingkat bawah untuk berkumpulnya aktivitas teman-teman KKN sedangkan lantai atas untuk keluarga pak Nuh yang terdiri dari Pak Nuh, Ibu Nuh, dan anaknya pak Nuh (ya iyalah… namanya juga keluarga Pak Nuh)… Rumah Pak Nuh ini tepat berada di depan balai desa dan di pinggir jalan. Sangat memudahkan untuk koordinasi dan menghadiri undangan rapat di balai desa. Sedangkan perempuan tinggal di satu rumah kosong yang sebelumnya tidak dihuni. Hawa-hawa mistis menyelimuti rumah itu. Hanya saja kita tidak tahu apa yang pernah terjadi di sana. Yang pasti kita harus waspada dan tidak berbuat yang aneh-aneh di sana. Aduh… sempet takut.. tapi life must go on, masa’ tidur di masjid sich… alasan utama tinggal di sana adalah ketersediaan air yang cukup melimpah. Tidak perlu dipusingkan dengan kekurangan air atau kekhawatiran tidak mandi. Kalau emang gak mandi mah itu emang dasarnya cewek-cewek pada jorok. Hehehe…. tapi rumah ini sedikit ramai karena sebelah ada warung yang sering dipakai untuk nongkrong, sangat dekat dengan SMU, SD, dan Masjid. Bisa menjadi tempat yang strategis untuk bersosialisasi. Kembali ke cerita awal. Hari Sabtu ini, semua rapat di kediaman laki-laki untuk membahas program yang akan dibahas. Semua orang sudah dibagi dalam tim dan diminta untuk membuat sedikit rancangan program. Rapat dimulai, persiapan yang harus dilakukan untuk besok diperiksa satu-persatu. Mulai dari peralatan, tempat, logistik, dan memastikan banyak yang hadir. Persiapan sudah ok… selanjutnya kesiapan program yang akan dipresentasikan nanti…. satu-persatu perwakilan Tim menyampaikan perencanaannya. Ada tim SRI yang mengurusi program penyuluhan padi organik SRI, yang diketuai oleh FAFA dan WULAN (ini mah asli anak pertanian), trus ada tim UMKM yang mengurusi program pelatihan UMKM, yang diketuai oleh Sarah, Ma’lufi, Radit, dan Juse (gabungan anak ekonomi, psikologi, dan komunikasi), ada tim BBB SD yang mengerjakan kegiatan bermain belajar bersama di SD, diketuai oleh Fera, Tami, dan Anesya. Ada lagi tim NOBAR Laskar Pelangi alias nontong bareng di MTs Tonjong sari, yang diketuai TOYIB a.k.a BOIM dan JINAN a.k.a KO. Ada program SMU yang dikoordinasikan oleh Ojan, Desti, Dhani, ama Yeni. Untuk membuat training motivasi dan pelatihan lainnya. Padahal ini SMU berada di desa lain loh…. Perlombaan 17an oleh Apit, Galih, dan Laras. Yang dengan semangat 45 bikin acara 17 agustusan yang meriah di desa Tonjong Sari. Beban berat yang harus dipikul karena acara 17an tahun lalu kurang meriah. Pembuatan Film Dokumenter yang diorganisasikan oleh Arfi. Sekedar memberikan informasi dan kenang-kenangan untuk desa Tonjong sari ini. Dalam persiapan program banyak hal yang harus disempurnakan. Perdebatan, permasalahan, dan solusi secara mengalir terjadi pada rapat pembahasan program ini. Sebuah dinamisasi rapat yang luar biasa, sampai-sampai ada yang tidur… ada yang foto-foto narsis… dan ada yang nyekil (maksudnya PDKT)…jarang-jarang ada rapat sedinamis ini… hahaha… Alhamdulillah, semua rapat bisa diselesaikan sebelum ashar…. jadi bisa sedikit mempersiapkan untuk esok hari. Infokus tidak ada… sehingga diantisipasi dengan membuat handout yang akan dibagikan kepada warga yang hadir. Beres…. semua selesai…. Semua teman-teman KKN kembali menikmati desa Tonjong Sari. Ada yang sengaja ke Cikalong (kota kecamatan) yang menawarkan berbagai fasilitas seperti baso, sea food, dan jajanan mirip kota, atau sekedar jalan-jalan ke pantai. Sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di rumah… Hari ini lelah fisik dan otak, mau sedikit istirahat. Hari-hari sebelumnya sedikit tidur di malam hari. Pada dasarnya memang sulit untuk tidur, hanya saja ada aktivitas tambahan yang bikin jadi susah tidur… MAIN KARTU REMI…. awalnya hanya tertarik untuk melihat karena emang sebelumnya tidak tahu cara mainnya… lalu melihat… mendekati… mempelajari… dan….. IKUTAN MAIN DONG….!!!!… Dan tidurnya pun tidak senyaman yang dipikirkan. Di rumah itu ada dua kamar…. satu ruang tamu yang cukup luas. Satu kamar diperuntukkan untuk meletakkan semua tas dan barang-barang, satu kamar lagi hanya bisa diisi maksimal 4 orang karena sudah ada spring bed.. dan di ruang tamu harus bisa masuk 9 orang. Memang tidak ada laki-laki yang badannya double… Cuma…. walah… gaya tidurnya ekspansi semua… gak dapet lapak… makanya sering kali tidur di kamar barang…. sendirian… gak pake selimut… ihhhh kedinginan… heheh LEBAY….. Efeknya adalah… badan ini pegal-pegal. Tiba-tiba suhu tubuh naik, sedikit panas. Dan sedikit pusing tentunya. Aktivitas rapat terkadang menguras tenaga yang lebih banyak dibandingkan harus berjalan jauh. Malam ini mau dipakai saja untuk tidur… lelah rasanya… dan kantuk juga menyergap… Tempat untuk tidur sudah disiapkan. Berharap tidur duluan supaya dapat tempat yang layak. Cari bantal dan selimut supaya gak kejadian gak dapat bantal dan selimut… wah pokoknya sudah siap untuk merajut mimpi dan kenangan di dunia bawah sadar. Namun tiba-tiba………… SMS masuk, tiba-tiba HP bergetar. Sebenarnya tidak ingin melihat, Cuma penasaran aja sebelum tidur… akhirnya baca SMS…. SMS yang aneh… tapi rasanya juga aneh…. Ada yang mengabarkan bahwa dia diajakin nikah dengan orang lain…. dia bingung… dan saya pun ikut bingung. Tiba-tiba ada rasa cemburu yang timbul. Musnah sudah harapan untuk mendapatkannya. Ternyata sudah diambil orang duluan. Lagi-lagi gagal, gagal lagi-gagal lagi. Walaupun sebenarnya baru mengenalnya. Namun tetap saja ada sedikit rasa cemburu. Beruntung juga laki-laki yang mendapatkannya. Aduhhh… ada aja nich… yasudahlah…. kalau ternyata bukan jodoh mau dikejar pun akan sulit Sedikit diplomatis mencoba menjawab sms… Wah bagus tuch… berarti diberikan kemudahan, yaudah tinggal diambil keputusan aja. Yang penting sudah ada yang mau, heheh… n_n, selamat yaa…. Tidak ada balasan SMS lagi, malah menjadi penasaran. Apakah benar yaa?… trus kira-kira dia jawab apa yaa?… waduh.. malah jadi gak bisa tidur. Memikirkan apa yang menjadi jawabannya…. jika saya dihadapkan dengan situasi seperti itu apa yang akan saya lakukan yaa?, trus kemudian berpikir lagi….. SUDAHLAH… TIDAK ADA HARAPAN LAGI UNTUK DIRIKU… JADI TEMAN SAJA LAH… TOH SELAMA KENAL DENGANNYA TELAH BANYAK YANG SAYA DAPATKAN MANFAATNYA…. Mata terpejam… berusaha untuk terpejam… tidak mau menghiraukan yang lain… ayo terpejam…. dan angan-angan pun beruraian satu persatu. Menghiasi malam yang indah dan lelah ini…. CURAAAAAAAAAAAAANG….. Kenapa dia ada di mimpi…..

Iklan

Pemetaan Sosial cukup memberikan PR yang sangat banyak. Data mengenai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di desa Tonjong Sari harus segera dirangkum dalam bentuk pemetaan permasalahan. Kumpulan permasalahan itulah yang akan nanti dipilih untuk menentukan prioritas mengerjakan program kegiatan di desa itu. Setidaknya masih ada waktu dua hari untuk mempersiapkan program berdasarkan masalah yang ditemukan di lapangan dan menyusunnya dalam bentuk kegiatan. Yup… hari minggu besok adalah lokakarya Kegiatan KKN. Sekarang hari jumat, jadi ada cukup waktu untuk rapat dan terus berkoordinasi. Beruntung memiliki teman-teman KKN yang mau diajak sibuk. Tadinya saya sempat ragu dengan paradigma sebagian teman-teman KKN yang menganggap KKN hanya sekedar Kuralang-Kuriling Nongkrong (alias Keliling-keliling trus nongkrong). Syukurnya itu tidak terjadi di kelompok ini. Setidaknya itu bisa tergambar dari kegiatan pemetaan sosial yang kita lakukan bersama-sama. Walaupun jarak yang harus ditempuh itu jauh, namun mereka tetap memperlihatkan muka seru dan senangnya. Seperti menemukan mainan baru dan keluarga baru. Hari jumat ini, sebenarnya ada dua janji yang sudah dibuat berkaitan dengan sosialisasi dan perkenalan. Pagi hari harus bertemu dengan Pak Camat dan diundang untuk mengikuti pengajian rutinan di salah satu DKM di siang hari bagi yang perempuannya, dan malam hari bagi yang laki-lakinya. Sepertinya mudah sekali untuk sekedar bertemu dengan Pak Camat. Tidak seperti di kota yang sangat sulit ditemui dan penuh birokrasi. Tujuan menemui Pak Camat untuk sekedar sosialisasi dan kemungkinan adanya kegiatan yang dilakukan dalam lingkup kecamatan. Harapannya bisa mendapatkan kemudahan dalam pelaksanaan kegiatan. Wah… kalau begini skenarionya, maka indah sekali. Ternyata Pak Camat sangat mendukung kegiatan. Dengan segenap bantuannya untuk menghubungkan dengan pihak yang berkaitan, dalam hal ini BPP (Balai Penyuluhan Pertanian), bisa langsung dipertemukan hari ini. Membicarakan kegiatan yang kita lakukan bersama, yaitu Penyuluhan Pertanian Organik SRI yang saat ini menjadi fokus pemerintah untuk menggenjot produksi beras. Pulang dari kecamatan jam 10, langsung menuju ke rumah. Ingin segera mengorganisasikan kegiatan ini bersama teman-teman yang lain. Namun, perjalanan pulang tidak semulus yang diharapkan. Motornya rusak, pas tanjakan. Waduh… berat euy… dan tiba-tiba hujan… wah indah betul suasananya.. Di tengah hujan rintik-rintik yang mulai deras. Saya menuntun motor sendiri berharap ada bengkel yang buka. Ternyata jauh juga… harus kembali lagi ke kantor kecamatan, karena di sanalah banyak bengkel motor. Waduh… tapi nikmat toh… malah beginilah yang diharapkan (ups… sombong), ada sedikit tantangan dalam kegiatan yang dilakukan. Huah….. sampe juga…. hujan bukannya berhenti malah tambah deras… wah jadi ngantuk…. Mata mulai redup-redup. Hujan dan angin sepoi-sepoi mengundang untuk segera menutup mata sambil menunggu motor yang sedang diperbaiki. Sesekali melihat wujud motor yang sudah dibongkar rangkanya. Dan mempercayakan semua pada tukang bengkel karena sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang motor. Dalam redup mata itu teringat-ingat tempat lain. Sempat terpikirkan, bagaimana kabar kampus yaa?, atau menerawang ke Jakarta memikirkan kabar keluarga, ibu yang sedang sakit sebelum ditinggalkan KKN, dan kakak yang sedang memulai proses lamaran. Semua rasa bercampur. Ingin rasanya segera pulang, tapi sangat sayang juga harus meninggalkan desa yang indah ini. Setidaknya waktu 40 hari cukup untuk merasakan kehangatan dan sambutan alam desa Tonjong Sari ini. Akan banyak petualang yang bisa didapatkan. Motor sudah selesai. Hanya saja hujan masih belum juga reda. Beberapa kali menghubungi teman yang sedang berada di rumah untuk mengabari bahwa setelah jumatan nanti akan ada pertemuan dengan Ketua BPP yang akan membantu kita dalam kegiatan Penyuluhan Pertanian SRI. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah menunggu… menunggu hujan mempersilakan saya untuk lewat dan melintasi jalannya dengan memberhentikan sedikit hujannya. Hujan sedikit reda. Tidak berpikir panjang untuk menancap motor menerobos hujan rintik itu. Berharap bahwa hujan akan segera berhenti. Dan dengan pelan dan hati-hati mencoba menjejak jalanan yang basah. Jalanan yang berliku dan menanjak maupun menurun turut menyumbangkan kehati-hatian. Di rumah tempat kami tinggal sementara selama 40 hari, ternyata tidak hujan. Hanya mendung terlihat di langit. Seperti ingin memuntahkan air yang ada di kantung-kantung awan itu. Pekat. Setau saya inilah hujan pertama kali selama kami sampai disini. Semua teman-teman sudah siap untuk berangkat ke masjid untuk sholat jumat. Saya pun sholat mengikuti jejak langkah teman-teman yang sudah pergi terlebih dulu. Masjid yang kami tuju adalah masjid Bitung. Masjid sederhana yang tidak jauh dari jalan. Sehingga suasananya tidak bising. Air mengalir di tempat kolam wudhu menambah suasana pedesaan yang kerap disibukkan dengan suara air. Suasana di luar masjid dengan di dalam masjid teramat kontras. Kita dapat segera merasakan keteduhan dan kenyamanan di dalam masjid. Bukankah hampir semua masjid seperti itu… memberikan kedamaian dan ketenangan bagi siapapun yang berada di dalamnya. Makanya tidak heran kalau banyak yang tertidur ketika khotib menyampaikan khutbahnya (hehehe… ini mah emang doyannya tidur). Sholat jumat di sini tidak terlalu lama. Hanya sekitar 15 menit selesai. Selesai sholat, nongkrong di warung depan. Yang menyuguhkan bala-bala dengan ukuran besar namun murah. Sampai kami terlupa ada janji dengan ketua BPP di rumah tempat kami tinggal. Wah senangnya bisa berbicara banyak dengan orang yang memiliki wewenang untuk menggerakkan kelompok tani maupun petani untuk mengikuti kegiatan. Berharap dengan adanya bantuan dari BPP kecamatan ini bisa tersosialisasikan ke semua petani sehingga bisa terasa manfaatnya. Alhamdulillah…. Malam hari… ikut pengajian… lagi-lagi disuruh sosialisasi dan perkenalan. Dan lagi-lagi saya sebagai kordes maju ke depan. Padahal… saya tidak bisa bahasa sunda. Aduh… harus bisa belajar bahasa sunda… kali aja dapat jodoh orang sunda, heheh… Hari yang cukup berat. Tidak direncanakan dan mengalir begitu saja. Namun sangat menyenangkan karena mungkin dengan cara seperti ini kita bisa terus lelah dan capek. Tidak sekedar jalan-jalan dan nongkrong. Alhamdulillah… tidur ah… besok pagi harus rapat… matangkan program kegiatan dan teknisnya…. mudah-mudahan.

H4 : Anak Misterius itu

Hari Selasa lalu, semua digemparkan dengan sesuatu yang lucu namun aneh. Teman-teman gaduh saat itu, padahal seharusnya pagi yang cerah itu bisa dihiasi dengan suasana riuh rendah tanda syukur akan kenikmatan yang tidak terkira. Bagaimana tidak, ayam yang sedari tadi bersuara ditambah anak-anak kecil yang berjalan sambil menyapa pagi dan juga hari itu merupakan pagi pertama di desa Cikalong, Tasikmalaya ini.

Tapi keindahan itu, disambut hal yang tidak lazim. Teman-teman saya.. yang laki-lakinya… diintip oleh seorang anak kecil-kecil. Pagi itu, teman-teman ingin merasakan nikmatnya pagi dengan pergi ke kamar mandi yang letaknya di belakang kantor desa yang tidak jauh. Kamar mandi yang tidak layak namun cukup untuk sekedar mandi. Sumur yang selalu menemani kamar mandi itu terletak tidak jauh dengan kamar mandi. Bak kamar mandi tidak pernah terisi oleh air karena keringnya daerah itu. Air didapat dengan cara menimba sumur itu. Yang airnya juga tidak banyak. Kamar mandi banyak memiliki celah. Jendela terbuka lebar tanpa ada penghalang sedikitpun. Pintu kamar mandi tidak ada sama sekali. Hanya sedikit tali yang bisa digunakan untuk sekedar menutup.

Tanpa ada curiga sama sekali. Galih mandi dengan senangnya. Ternyata mandi di pedesaan lebih segar dari perkotaan. Minimal udara segar turut membuat hati menjadi senang dan dinginnya air. Byur… byur…. byur… dengan air seadanya mandi. Diirit supaya tidak cepat habis. Lalu sabun mulai disentuh lembut ke badan… namun….

Braakkk… brakkk….

“ih…. banyak…..”, seru anak kecil yang membuka pintu kamar mandi secara tiba-tiba.

Galih panik.  Tidak percaya dengan yang baru saja dilihat. Seorang anak kecil laki-laki mengintip dia mandi. Dengan bergidik dan sedikit kesal, Galih menutup pintu. Mungkin baru kali inilah Galih diintip, biasanya mah ngintipin orang….

Eits…. ini bukan cerita Galih saja, tapi Boim, Apit, dan beberapa cowok lainnya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Namun dengan cara yang berbeda. Sangat unik. Ada yang diintipi dari atas, samping, pinggir, serong, dari semua sudut yang ada.

Entah apa yang diinginkan oleh anak kecil seusia 10 tahun itu. Apakah ini bentuk keingintahuannya atau malah ini merupakan sebuah indikasi atas perilaku abnormal. Memang terlalu prematur ketika harus menyatakan anak itu mengarah pada perilaku Voyeurism (perilaku seks dengan melakukan intip sehingga bisa menimbulkan hasrat seks yang tinggi). Kalau memang benar terjadi, apa yang terjadi dalam keluarganya?, apa yang terjadi ?,

Otak ini terus berputar untuk mencari jawaban sedikit untuk hal itu. Selidik dan analisis menjadi hal yang saya lakukan pagi ini. Di hari Kamis ini seharusnya jadwal pemetaan sosial yang sudah dilaksanakan kemaren. Namun saja, saya beserta kelompok sudah dapat menyelesaikan pemetaan itu selama satu hari saja. Sehingga satu hari ini menjadi waktu luang untuk mengerjakan yang lain, yang tentunya berkaitan dengan KKN. Mungkin saja mau mencoba untuk menulis. Menulis jurnal harian yang saya lakukan setiap harinya. Mungkin saja ini bisa memudahkan saya ketika nanti harus membuat laporan individu KKN. Dan sudah beberapa hari memang sangat sulit untuk menulis. Karena padatnya rapat dan sosialisasi ke warga menyebabkan sulit untuk menulis catatan harian.

Senang rasanya.. bisa menulis lagi… jari-jari sudah tidak sabar mengetikkan sesuatu. Otak sudah mulai kencang memikirkan yang terjadi selama dua hari ini. Kata-kata terangkai sempurna dengan buaian warna perasaan. Semua tersalurkan dalam hentakan keyboard yang mengalir deras. Wah luar biasa… senang… senang sekali.

Dalam kesenangan yang baru saya dapatkan ini, ada seorang anak kecil yang menghampiri. Melihat-lihat apa yang saya kerjakan. Tidak basa-basi saya langsung menanyakan namanya.  Tentunya dengan bahasa sunda… yang agak kaku dan maksa.

“nami na saha ?”, yang hendak menanyakan nama anak itu.

“Tias”, jawabnya singkat

Ternyata anak inilah yang membuat gempar di hari sebelumnya. Anak inilah yang mengintip hampir semua anak cowok. Anak inilah yang membuat saya berpikir panjang saat ini. Ini adalah kesempatan untuk mengetahui apa yang terjadi. Ingin mengetahui apa yang dipikirkannya, ingin tahu… ingin mengerti…

Faktor bahasa menjadi kendala dalam komunikasi dengan anak itu. Bahasa sunda saya pas-pasan. Tidak baik berbicara maupun menyimak. Aneh juga, saya yang ditunjuk menjadi kordes karena sebenarnya akan berpotensi untuk mengalami kesulitan. Benar saja, setiap diminta untuk perkenalan diri dalam sosialisasi ke warga, maka kata-kata awal yang harus saya katakan adalah : “maaf bu, saya tidak bisa bahasa sunda. Tapi kalau denger mah sakedik-sakedik ngartos”.. selalu itu. Maklum saja, walaupun sudah tinggal 4 tahun di lingkungan sunda tapi tidak ada keinginan untuk belajar bahasa sunda.

Ada saja media komunikasi yang dilakukan antara dua manusia yang berbeda. Kesulitan bahasa bukan berarti kita tidak bisa berkomunikasi, bukan berarti kita menarik diri. Ada saja yang bisa kita lakukan. Dengan terbata dan mencoba memahami gerak tubuh menelisik untuk mendapatkan informasi. Yup… saya punya ide.

Saya mengajaknya bermain laptop. Mengajarkannya mengetik kata-kata. Dan dia menceritakannya. Diajarkan sedikit bagaimana menggunakan keyboardnya. Dikenalkan enter, backspace, space, dan sebagainya. Akhirnya dia mulai menuliskan sesuatu.

Saya memintanya untuk menuliskan namanya. Dia mulai mengetikkannya T I A S T I A W A N, itulah yang muncul di layar. Ternyata namanya Tiastiawan, yang dipanggil Tia. Saya minta untuk menuliskan semua nama yang tia kenal.  Dan dia mulai melakukannya dengan lamban. Satu-persama mencari huruf yang berada di tuts. Untuk sekedar mengetikan nama pendek. Setiap dia menuliskan nama-nama, saya langsung bertanya, “ini siapa?, dia siapa?”, dan sebagainya. Biarkan dia bicara tentang nama-nama itu semua. Yang nantinya mungkin saja bisa mengetahui kondisi keluarga, dan apa yang sebenarnya terjadi.

Dan… luar biasa…. cara ini bisa ampuh juga. Tidak harus konseling lama-lama untuk mengetahuinya. Kondisi keluarga… kehidupan sehari-hari. Ternyata hal itulah yang menjadi hipotesis dalam pertanyaan kemaren-kemaren mengenai, kenapa dia harus mengintip?, yah… saya mulai sedikit mengetahuinya. Ketika itu, ketika sudah lelah dengan mengetik dan mengingat nama orang lain. Akhirnya dia menuliskan satu kata yang membuat saya kaget. Yang membuat saya terperangah seakan tidak percaya. Kata itu spontan sekali, tidak ada yang dibuat-buat. Lalu ketika saya tanyakan… dia menunjukkan satu kenyataan yang lebih menarik. Ini dia.. sult dimengerti tapi inilah kenyataannya. Tidak ada yang perlu dibahas. Biarkan kenyataan ini menjadi rahasia. Bukan untuk dikonsumsi publik. Mudah-mudahan bisa membantunya…….

Hari ini duduk di teras merenungi apa yang dilakukan selama satu hari ini. Rapat konsep, diskusi program, dan tentunya berbincang dengan anak kecil itu. Jika kemarin lelah fisik, maka hari ini adalah lelah otak. Alhamdulillah masih diberikan kesibukkan ditengah ketidakpastian esok hari.

ASTAGFIRULLAH  ‘AL ADZHIM….. terbangun.. dan melihat jam. Sudah jam 5 pagi.. berarti…. Sholat shubuh sudah lewat. Jamaah sholat shubuh sudah melakukan kegiatannya menghambakan diri, sedangkan saya masih terlelap tidur. Dan aduh… ternyata tadi malam lupa pakai selimut. Masuk angin.. dan perut ini ingin mengeluarkan segala isi yang ada di dalamnya. Mules….

Ke kamar mandi sendiri. Ditemani senter, langsung menuju sumur dan kamar mandi. Sudah ingin keluar, ingin segera diselesaikan. Air yang ada di kamar mandi umum sudah habis. Setidaknya harus menimba air… dan… terbirit lari karena sudah tak tahan lagi…

Alhamdulillah… masih dikeluarkan pada saat yang tepat dan tempat yang tepat pula. Karena sudah kesiangan, agaknya sedikit sinar sudah menyelinap masuk ke dalam kamar mandi yang sedikit tidak tertutup. Setidaknya, pagi ini masih diberikan kesempatan untuk mandi dan gosok gigi.

Agenda hari ini adalah pemetaan sosial. Kegiatan yang dilakukan sebagai tugas dari kampus untuk memetakan kondisi sosial di masyarakat berdasarkan IPM (indeks Pembangunan Manusia), yang terdiri dari aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Berdasarkan kesepakatan, maka kita dibadi dalam tujuh dusun yang memiliki jarak bervariasi. Dari yang terdekat sampai yang terjauh. Tentu saja saya berharap mendapatkan yang terjauh, karena memiliki obsesi berpetualang yang tinggi. Membayangkan akan menjelajah pelosok negeri yang sedikit terjamah oleh orang lain. Petualangan yang mengurangi dahaga keingintahuan yang tinggi atas sesuatu yang ada di “dunia lain”.

Alhamdulillah, kenyataan bahwa hasil pengundian dan kesepakatan, bahwa saya ditempatkan di Desa Pamijahan yang memiliki waktu tempuh 1 jam perjalanan. Alhamdulillah juga karena diberikan partner yang luar biasa., ada Teguh, uti, dan oki. Lengkap sudah.

Sebelum melakukan pemetaan sosial, kita semua melakukan persiapan awal dengan kepala desa, kepala dusun, pejabat desa, dan polisi desa. Beberapa saat kemudian semua siap dengan aksinya masing-masing. Setiap kelompok ditemani oleh kepala dusun atau minimal perwakilan dari dusun untuk menunjuki arah dan jalan di dusunnya masing-masing. Satu-satu berangkat ke tempat tujuan.

Harapan untuk berpetualang sirna. Ternyata kelompok dusun pamijahan (kelompok saya) malah diberikan fasilitas motor. Sangat lumayan untuk mengirit waktu untuk menempuh tujuan. Tapi… tidak bisa bertualang… tidak bisa jalan-jalan… aduh…

Tidak menantang sama sekali. Terlihat mudah… bingung… apakah ini merupakan kenikmatan atau malah kebosanan. Lagi-lagi manusia menunjukkan sifat kufur nikmatnya. Ketika diberikan ujian yang sangat berat, dengan cepat kita mencela dan mengutuk keadaan atau bahkan sampai meyalahkan tuhan. Kalau dikasih kenikmatan malah sombong dengan sesuatu yang merendahkan. Tidak menarik.. tidak ada tantangan.. atau tidak-tidak yang lainnya…. Inilah yang saya rasakan. Di satu sisi sangat senang dengan kemudahan dalam melakukan pemetaan sosial, di sisi lain tidak sesuai harapan untuk bisa bersosialisasi ke masyarakat sekitar, atau setidaknya duduk-duduk lebih lama dan melihat lebih dalam kehidupan keluarga di pedesaan.

Dua jam waktu yang dibutuhkan untuk mengambil data 21 responden yang dilakukan oleh 4 orang. Ditambah makan-makan di rumah pak dusun dan ngobrol-ngobrol singkat. Selesai sudah, dan langsung pulang. Kelompok saya menjadi yang tercepat menyelesaikan pemetaan sosial. Kelompok yang lain masih saja belum selesai. Sekian lama menanti, ternyata belum juga datang. Aduh jadi iri dengan teman-teman yang mungkin saja sedang bersenang-senang di jalan pedesaan menembus hutan dan membelah pematang sawah yang terbentang tandus. Sayup mata mendesah ingin ditutup, sudah beberapa hari ini tidur telat. Angin dari pepohonan pun memberikan keteduhan yang masuk menghembus saluran pernapasan.

Terdengar gaduh di luar… beberapa orang sudah kembali ke basecamp. Tempat semua orang kumpul dan melakukan evaluasi. Agak berat memang mengangkat mata yang baru saja menutup, namun keceriaan yang tampak terlihat gembira membuat saya bertanya. Apakah perjalanan mereka begitu menyenangkan ?, sehingga tidak ada gurat kelelahan atau dengusan kekesalan karena daerah yang sulit dijangkau… mereka semua tertawa. Bahkan dari kejauhan, Boim sudah berteriak memanggil-manggil kami. Menandakan bahwa kelompok mereka telah melakukan perjalanan yang sangat menyenangkan. Tidak kalah dengan yang lain, kelompok lain pun dengan senangnya bercerita tentang perjalanannya yang penuh dengan kebahagiaan. Ada cerita tentang jamuan warga dengan menyuguhkan ikan bakar, nasi pulen, dan air kelapa ketika makan siang tiba. Ada yang senang sekali memamerkan barang bawaan yang tidak lain adalah pemberian dari warga sekitar. Ada juga yang bercerita tentang sulitnya perjalanannya yang harus melintasi jalan yang terjal. Dan banyak cerita lainnya. Sampai kisah menyedihkan betapa sulitnya melakukan wawancara dengan warga desa karena kendala bahasa atau susahnya mencari responden.

Semua itu menggembirakan hati. Semua melakukan dengan senang hati, bahkan dalam kelelahan sekalipun mereka bisa bersenang-senang. Memaknai setiap langkah yang mereka lalui selama perjalanan dan kekaguman mereka atas sambutan yang hangat. Mereka semua semangat. Mereka semua semangat. Lalu apa lagi yang harus saya pikirkan untuk menyemangati diri sendiri.. ayo jangan kalah semangatnya. Bukankah bersama orang-orang semangat kita akan terbawa oleh arus semangat ?.

Ditutup hari ini dengan evaluasi… yak.. bagi yang belum baik harap diperbaiki, bagi yang sudah baik harap diperbaiki juga. Karena kebaikan akan terjadi ketika kita terus memperbaiki kebaikan itu… Amiin.

Gelap masih menyelimuti desa Cikalong, bintang-bintang masih saja bertaburan di atas langit. Kombinasi dan harmonisasi yang luar biasa bercampur di atas langit. Walaupun hanya sedikit warna yang ada di langit yang gelap, bukan berarti tidak indah. Dengan latar belakang hitam yang memekat, terselip bintik-bintik putih dan kuning berkelap-kelip seperti layaknya ada cahaya yang menyelinap masuk di antara celah ruangan yang gelap. Bulan sabit indah juga tersenyum dengan suasana yang riang. Senyuman yang cukup lebar untuk menemani keindahan secara keseluruhan di jagat yang hitam ini. Dan awan putih yang menyamar dalam kegelapan dan diam merayap terus bergerak menjadikan langit berbentuk seperti tiga dimensi yang sempurna. Sungguh indah…

Semua masih terlelap. Seperti biasanya…. Susah sekali teman-teman KKN dibangunkan untuk bersama sholat shubuh di masjid. Ada beberapa orang yang harus dipaksa untuk bangun supaya tidak melewatkan shubuh pertama di desa Cikalong ini. Kelelahan sehabis perjalanan kemarin memang cukup membuat badan pegal-pegal. Baru terasa ketika baru bangun tidur.

Perlahan mengambil wudhu dengan sedikit air di kamar mandi yang saat ini memasuki musim kemarau. Agak kesulitan memang jika harus mandi atau menggunakan air untuk keperluan pribadi. Harus mengambil air di sumur di belakang kantor desa yang hanya berjarak 50 meter. Perjalanan ke masjid tidak sendiri, setidaknya ada satu orang yang juga bangun. Sambil menyimak gerak-gerik alam mencoba menangkap sesuatu perasaan yang hebat. Di tengah gelap malam dan sedikitnya lampu, mencoba bertafakur dan mensyukuri nikmat apa lagi yang akan didapatkan pada pagi hari ini. Shubuh selalu saja memberikan kenikmatan luar biasa pada hambaNya yang mau bersujud kepadaNya. Janji syurga dan isinya tidak bisa menyaingi keindahan dan keberkahan sholat shubuh.

Wudhu di sini sangat unik. Satu kolam dipakai bersama-sama. Tidak ada air yang langsung mengalir. Air wudhu yang sudah dipakai orang lain terkumpul kembali di dalam kolam. Pertama melihat bingung. Namun sepertinya tidak masalah lagi, tinggal dibiasakan saja.

Agenda hari ini adalah mengikuti pengajian bulanan desa yang dilakukan di salah satu dusun di desa tonjong sari. Namanya dusun Pamijahan. Menurut penuturan pak Sekdes, merupakan dusun terujung dari desa ini. Memiliki jarak tempuh 1 jam perjalanan dengan jalan santai. Kalau jalan cepat mungkin lebih cepat. Agak telat dengan yang direncanakan. Seharusnya sudah sejam yang lalu kita berangkat, ternyata sampai jam 8 pagi ini saja masih ada yang belum mandi. Terpaksa meminta para wanitanya yang berada di rumah yang berbeda untuk menunggu. Sekaligus sarapan dan dandan…

Tepat pukul 8.12 berangkat ke tujuan. Beberapa orang bertanya tentang letaknya. Dan sepertinya hal yang sia-siak ditanyakan. Karena dari semua yang berjalan ke tempat tujuan tidak ada yang tahu di mana letaknya.

“Kalau kata pak sekdes sich 1 jam perjalanan kalau jalannya santai, makanya kita jalannya agak cepat biar cepat sampai”, jawab saya yang tidak tahu menau tentang tujuannya.

Tidak ada lagi komentar. Tidak ada lagi pertanyaan. Semua menikmati perjalanan dengan berbicara satu sama lainnya. Hal yang jarang dilakukan selama pembekalan KKN atau pertemuan-pertemuan sebelumnya. Tawa, gaduh, riang, masih menyemarak di setengah jam perjalanan. Selanjutnya, mereka mulai menanyakan kembali pertanyaan yang sebenarnya sudha tau jawabannya.

“Des, masih lama gak?”, Tanya mereka

“Mudah-mudahan enggak….”, jawab saya diplomatis. Mau jawab apa lagi. Toh saya tidak mengetahui tempatnya.. hehehe…

Suasana menjadi hening. Perjalanan menjadi cepat. Hanya sedikit tawa dan canda. Semua sudah capek, akan menghabiskan banyak tenaga ketika harus tertawa terbahak-bahak. Tapi tetap saja ada yang punya energy lebih. Uti dan Laras sepertinya memiliki energy lebih dan cadangan battere yang banyak. Buktinya selama perjalanan tetap saja bersuara. Keras pula… gak bisa disuruh diam… lumayan… anggap saja sebagai musik alam yang mengiringi perjalanan seperti suara sapi yang bersuara ketika kita lewat…

Mooooooooo….ooooooo….. Ada sapi menyapa…

Moooooooooo…hahahaha….hahahaha….. Laras pun membalas sapaannya…

Setelah berjalan cukup lama (ternyata lebih yang diperkirakan lagi) sekitar 1,5 jam. Kita disambut bak layaknya bintang film Holywood. Dan kita pun sok kegantengan dan sok artis segala. Menebar pesona dan popularitas dengan senyuman dan salaman. Tapi memang, senyuman mereka memang senyuman yang menghangatkan. Menyambut kami layaknya keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Inilah indahnya sebagai seorang mukmin. Dimanapun berada, hatinya tertaut sebagai saudara. Tanpa ada beban dan paksaan. Menerima dengan sepenuh hati atas seseorang yang tidak kenal sebelumnya.

Acara sudah dimulai. Sepertinya baru dimulai. Suara lantunan tilawah alquran masih terdengar. Berarti acara memang baru saja dimulai. Tilawah dilanjutkan dengan shalawat Rasulullah. Samar-samar mengikuti shalawat yang dibacakan. Menyebar pandangan ke sekeliling untuk melihat wajah-wajah orang-orang desa. Ingin sekali menghapal semua wajah itu. Biar mungkin saja bisa menimbulkan kerinduan untuk terus menjalin silaturahim dengan mereka. Dan barangkali bisa bertemu dengan mereka di suatu hari. Di suatu tempat. Di suatu kegiatan. Minimal dipertemukan dalam surgaNya ALLAH yang begitu luas. Lalu ada acara reunian di surgaNya. Amiin…

Pak kepala desa maju memberikan sambutannya. Jujur hanya sedikit yang dimengerti. Pembicaraan seluruhnya menggunakan bahasa sunda. Sesuatu yang menjadi kesulitan dalam 3 tahun terakhir. Belajar di Bandung tidak memberikan efek dalam pembelajaran bahasa sunda. Mungkin hanya makian dan kata kasar yang bisa saya ingat. Teman kosan sering mengucapkannya. Jadi saya pun dengan mudah mengingatnya… hehehe…. Kepala Desa mulai memperkenalkan kami, sebagai mahasiswa Unpad yang sedang KKN di Desa Tonjong Sari ini. Dan selanjutnya…………

Saya sebagai ketua rombongan juga turut dipersilakan berbicara. Whats?… aduh… sempet bingung… kalau tau seperti ini, seharusnya malam-malam sudah menyiapkan bahan pidato. Atau minimal ada bobodoran sunda yang bisa mencairkan suasana. Benar-benar bingung… apa yang mau disampaikan… sudahlah… yang penting maju aja dulu….

Dengan sedikit grogi mengucapkan salam dan shalawat atas Nabi.

“Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Inna hamdalillah nahmaduhu wa nasta’inu… wa naudzubillahi min sururi anfusina…. Dan seterusnya….

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah swt… dan seterusnya. Ucapan standar yang dilakukan ketika harus menjadi MC, moderator, pengisi acara, dan pemateri… dan dilanjutkan dengan…

Maaf pak… saya tidak bisa berbahasa sunda. Tapi kalau mendengar orang berbicara sunda… yahh…. Sakedik…sakedik ngartos lah… dengan logat jawa kental…

Semua orang tersenyum, bahkan ada juga yang mengomentari. Alhamdulillah ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Ternyata mereka mengerti juga dengan yang saya bicarakan. Takutnya ketika saya berbicara mereka malah bingung. Alhamdulillah.. sehingga saya bisa melanjutkan perkenalan dan maksud kami di KKN ini dengan sedikit memberikan gambaran kegiatan.

Namun sebelumnya saya sempat berterima kasih dan sedikit mendapatkan hikmah dari scenario Allah yang luar biasa ini…

Saat ini saya sangat bersyukur hadir di sini. Di suasana yang sama sekali tidak pernah terpikirkan. Tidak pernah terencanakan. Namun Allah memiliki rencana yang luar biasa untuk mempertemukan hambanya satu sama lain untuk saling mengenal sehingga bisa memahami satu sama lain dan berharap bermanfaat untuk orang lain. Allah memberikan kelebihan dan kekurangan, namun hal itu bukanlah hal yang harus diperdebatkan. Allah memberikan itu semua agar kita bisa saling mengenal, satu dengan yang lainnya, memahami bahwa kita berbeda, mengajarkan kepada manusia bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan untuk sama. Selain itu pula, sambutan hangat dari bapak-bapak yang hadir pada hari ini juga menunjukkan kekuatan ukhuwah. Walaupun kita tidak kenal satu sama lainnya, namun semua orang yakin dan mau menerima seperti layaknya saudara. Ada sesuatu yang mengikat di antara kita semua yang tidak saling mengenal. Itulah kekuatan mukmin yang menyimpan berjuta senyuman untuk saudaranya…. Allah mempunyai skenarionya sendiri… “

Sambutan dan perkenalan yang saya lakukan tidak panjang. Hanya memakan waktu sepuluh menit. Apakah dimengerti semua atau tidak, saya hanya beharap bisa melanjutkan ukhuwah ini. Acara dilanjutkan dengan pengajian. Hari ini ada tiga pembicara yang bebicara bergantian. Setiap pembicara berbicara 30-45 menit.

Pembicara satu, Alhamdulillah masih dimengerti. Baik bahasan maupun bahasanya. Ceramah pertama yang unik adalah bahasan mengenai surat alfatihah… golongan yang magdub dan dholal (Ghairil magdhu bi ‘alaihim waladhdholiin…) ayat terakhir pada surat alfatihah. Golongan Magdub (sesal) dan dholal (sesat). Sesal karena mempunyai ilmu tapi tidak melakukan amal sedikitpun. Sedangkan dholal, dia melakukan amal tapi sembarangan (tanpa ilmu). Sedikit pernyataan namun mengena. Kita hanya mengetahui artinya tanpa bisa mengaitkan dengan analogi lain. Benar sekali… orang yang rugi adalah orang yang memiliki banyak ilmu tapi sedikit sekali amalnya… Allah murka terhadap orang-orang seperti itu… yang enggan menggunakan ilmunya untuk berbuat sesuatu kepada orang lain. Dan allah juga murka terhadap orang yang melakukan sesuatu tanpa dasar ilmu. Seenaknya saja…. Sholat seenaknya… puasa seenaknya… berbuat baik seenaknya…  sholat shubuh yang harusnya dikerjakan shubuh-shubuh tapi seenaknya diganti menjadi jam 7, ketika matahari sudah meninggi. Kalau sholat jam 7 mah sholat murtat (jeMUR panTAT)…. Karena ketika sujud… matahari akan membakar panasnya ke pantat kita… aduh ya Allah… terkadang ingat dulu, ketika sering melakukan sholat shubuh jam 7 pagi… aduh memalukan…

Sepertinya pertemuan-pertemuan di desa selalu berujung pada makan-makan. Alhamdulillah, setidaknya bisa menghemat pengeluaran kali ini… dan akhirnya kita harus pulang… pamit… dan..

Teman-teman mulai gelisah. Memikirkan perjalanan jauh yang melelahkan. Semua minta naik mobil. Sebanyak 26 orang, mau naik apa?. Akhirnya tanya-tanya ke sekdes, dan ada mobil yang bisa dipakai.. mobil kolbak (ini nulisnya gimana sich?), pokokna mah mobil yang sering dipake buat ngangkut sayuran. Yang dibelakangnya kosong.. tapi bayangin aja… 26 orang sekaligus.. apa muat?, mana badannya ada yang 1,5 atau bahkan dua. Jadi itungannya bukan 26 lagi… mungkin 29 atau 29,5 …. Jalan terjal bebatuan menjadika perjalanan lebih menakutkan dibandingkan harus berjalan kaki. Teriakan dan ketakukan menjadi satu. Tidak seenak yang dibayangkan, tapi minimal penderitaan ini bisa diselesaikan dengan cepat. Hanya 15 menit sudah sampai rumah lagi. Tapi pegelnya sama dengan 1 jam perjalanan. Kaki yang harus berdesakan. Pantat yang harus menahan beban. Tangan yang harus mencengkram pegangan.

Hari ini petualangan sudah selesai. Lelah namun menyenangkan. Masih ada saja energy mereka untuk tertawa dan bercanda. Ayo… bersenang-senanglah… kita hanya sebentar disini, jadi puas-puaskanlah…

Hari kedua sudah selesai…. Hilag lagi satu hari untuk bersenang-senang… berharap untuk menyambut hari selanjutnya…. Ayo teman-teman kita rapaaaaaaaaaaaaaatttttt buat besok…. n_n,

Sampai kapan perjalanan ini

Hari kedua KKN, agenda utama adalah menuju dusun Pamijahan Desa Tonjong Sari untuk menghadiri pengajian bulanan yang dirutinkan. Berbekal sedikit peta yang tidak tahu arah utara-selatan, timur-barat, menjadikan perjalanan yang sangat asik dan menantang. Semua orang antusias untuk melakukan perjalanan. Wajah ceria dan ramainya suara mengiringi perjalanan saat itu. Dua puluh enam orang berjalan bersama, tanpa tahu dimana tujuannya…

Selama perjalanan, banyak pertanyaan di awal yang tidak ada jawabannya. Mereka menanyakan “kemanakah tujuan kita ?”, “berapa lama sampai di sana?”, dsb… semua pertanyaan itu sangat sulit untuk dijawab. Sebab penanya dan yang ditanya sama-sama tidak tahu jawabannya… kegamangan mulai menghinggapi orang-orang yang ikut dalam perjalanan. Keraguan menyeruak pada hati yang sudah lelah dengan perjalanan. Sudah jauh berjalan, namun masih belum mendekati tujuan. Berulang kali bertanya kepada orang yang ditemui di jalan menanyakan tempat yang akan kita tuju. Untungnya, setidaknya kita tahu ke mana tujuan kita. Ke sebuah tempat, namun sayangnya kepastian akan tempat itu masih tidak jelas. Melangkah terus.. dan mencoba untuk terus bertahan…. Kadang kala mengeluh di saat sudah menunjukkan kelelahan… bertanya.. dan bertanya dengan orang yang ditemui… untuk memastikan tujuan akhir kita…

Tidak jauh berbeda dalam pemaknaan perjalanan hidup kita dari awal sampai akhir. Ibarat perjalanan hidup, di awal kehidupan kita tidak tahu kemanakah tempat yang akan kita tuju. Kemudian bertemu dengan orang lain dan mendapatkan sedikit informasi tentang tujuan itu. Ketika sudah tau tujuan itu, kita mulai menanyakan… bagaimana cara menuju jalan itu. Berulang kali ditanyakan… kepada semua orang yang ditemu… untuk memastikan jalan yang dilalui sudah benar…..

Tujuan kita adalah kematian… dan kita menuju jalan yang bernama kematian… berulang kali kita menanyakan… kapankah kita akan mati ?, berapa lama lagi kita akan mati ?, dsb. Semua tidak secara jelas memberikan infomasi mengenai kapan waktu yang tepat untuk sampai pada kematian…. Tidak ada yang bisa mendefinisikan secara jelas jawaban mengenai lama perjalanan yang akan ditempuh.. “Mungkin 1 jam lagi nyampe”, “mungkin kira-kira setengah jama-an lagi lah”, dan mungkin-mungkin yang lain.

Lalu kita pun menanyakan petunjuk menuju tempat yang dituju. Semua orang pun memberitahukan tanda-tanda atau patokan jalan untuk menuju jalan itu. Kita sudah sering diingatkan dengan uban yang ada di rambut kita, pelemahan fisik, menurunnya daya ingat, membungkuknya badan kita, dan sebagainya. Sebenarnya itulah tanda-tanda untuk menuju kematian itu… sudah sangat jelas…. Sangat jelas sekali… hanya saja apakah kita menangkap maksud dari semua tanda-tanda itu.

Perjalanan ini sampai kapan?, pegal rasanya kaki ini untuk terus melangkah… bolehkan dipercepat untuk menuju tujuan itu?.. ataukah mencoba menikmati setiap langkah yang terjadi dan terus berharap bahwa kita bisa selamat sampai tujuan. Tidak disesatkan dengan sesuatu yang menjadikan kita terlupa terhadap tujuan utama kita.

Perjalanan itu… entahlah kita tidak tahu sampai kapan…

Perjalanan itu…. Membuat kita menjadi cemas… sampai kapan ini akan berakhir…

Perjalanan itu… adalah KEMATIAN

Hari-hari ini sering disibukkan dengan diskusi yang mungkin saja menjadi pangkal permasalahan hubungan dua orang. Baik itu persahabatan, maupun hubungan dekat lainnya. Dan ketika kita memahami tentang bagaimana wanita atau pria berpikir secara umum, maka harapannya kita bisa saling memahami satu dengan yang lainnya.

Wanita memandang sebuah kejujuran

Jangan remehkan hal ini. Sebagian besar wanita sangat menginginkan kejujuran, walaupun itu akan terasa pahit untuk didengarkan. Semua yang terjadi ingin diketahui. Semua yang ada harus terasa. Tidak boleh ada rahasia dan menimbulkan rasa penasaran. Wanita akan sangat tersiksa jika harus menanggung rasa penasaran. Tidak heran banyak wanita yang bergosip (walaupun sekarang laki-laki juga) karena ingin selalu mengetahui urusan orang lain. Kalau bisa tidak ada tembok yang menghalangi untuk tahu orang lain. Sakit hati ketika ternyata informasi yang diterima salah. Ketika orang lain menyembunyikan sesuatu. Dengar saja ucpaan mereka “ih… kasih tau dong ?”, atau “kamu gak percaya ya sama saya?”, “masa’ saya gak boleh tau sich ?”, “emangnya gak boleh tau yaa?”, dan pertanyaan-pertanyaan yang mengorek informasi sedalamnya…. Jadi jangan terlalu membuat wanita penasaran…

Karena wanita ingin sekali kejujuran, maka dia pun melakukan kejujuran itu pula kepada orang lain. Semua diceritakan kepada orang lain. Baik baik, buruk, dan semua dilakukan dengan curhat. Curhat.. curhat.. dan curhat lagi… wanita selalu ingin jujur terhadap orang lain. Ingin membuka semua cerita kepada orang terdekatnya… sangat mudah untuk meminta kejujuran dari wanita…..jangan meremehkan kejujuran, apalagi ingin menjadikannya sebagai sahabatnya….

Laki-laki dalam memandang sebuah kejujuran.

Laki-laki juga membutuhkan kejujuran, namun tidak seperti wanita. Kejujuran tidak menjadi penting bagi laki-laki. Semua orang tidak perlu tidak perlu tahu semua. Kalau bisa diselesaikan dan dipendam, untuk apa disebarkan kepada orang lain. Mengumbar masalah hanya “menjatuhkan” harga diri di mata orang lain. Apalagi sesuatu yang bisa dibilang “aib”, maka akan mati-matian untuk ditutup rapat dan biarkan menghilang sering berjalannya waktu. Orang lain tidak perlu tahu… siapa saja yang ingin mencoba mencari informasi… maka bersiaplah untuk kecewa. Laki-laki akan menutupi rapat hal yang merusak harga dirinya. Laki-laki malah cenderung untuk tertutup, tidak ingin terbuka. Tidak ingin orang lain tahu. Jika pun ingin terbuka, maka hal-hal yang berkaitan dengan prestasi dan prestisius. Laki-laki akan dengan sukarela menceritakan berbagai penghargaan, prestasi, dan keunggulan diri. Untuk masalah lain, jangan harap… apalagi yang berhubungan dengan selingkuhan, ketidakmampuan, dan kekurangan diri… selain itu, kejujuran juga mungkin membuat “muak” laki-laki. Kadang-kadang malah mempersepsikan rendah pada seseoang yang jujur.. jujur untuk menceritakan semua kejadian. Salah satu contohnya… ada seorang wanita yang jujur karena sedang kesel atau marah, atau hal-hal sepele disampaikan, hanya saja laki-laki memandangnya “Ih koq gini aja disampein ?”, atau “ih… kamu kayak anak kecil aja”, dsb.. atau pikiran-pikiran bahwa tidak pentinglah untuk memikirkan hal kecil itu, masa’ tidak bisa diantisipasi sendiri sehingga harus dilaporkan juga. Inilah mungkin yang menjadikan laki-laki mengagumi wanita, yaitu karena wanita itu bisa bersifat dewasa. Yang bisa mengelola emosi untuk sesuatu yang kecil sehingga tidak memberikan masalah tambahan bagi laki-laki…

Begitu pula pemikiran inilah yang sering digunakan dalam interaksi. Karena laki-laki tidak terlalu memikirkan kejujuran, maka terkadang laki-laki banyak menymbunyikan sesuatu. Apalagi yang mungkin bisa menyakiti hati orang lain. Biar dipendam, makin banyak, makin dalam… jangan harap membuka aib laki-laki…..

Sedikit gambaran yang tidak seluruhnya benar. Namun ketika terjadi masalah, biasanya terjadi karena kita terlalu memaksakan pemikiran kita untuk diterapkan kepada orang lain. Dua insan yang (laki-laki dan perempuan) memiliki perbedaan. Dan terkadang permaslahan itu karena sedikit perbedaan ini. Semua orang berkutat dengan perbedaan yang sebenarnya wajar ada pada dua. Mustahil untuk menghilangkan perbedaan itu…

Jangan takut untuk berinteraksi… dan yakinlah setiap perbedaan pasti ada persamaan…  tidak perlu memperbesar perbedaan yang terkadang tidak terlalu penting namun seringkali dianggap sebagai “prinsip”. Tidak akan nyambung ketika wanita memiliki prinsip “harus jujur” sedangkan pria memiliki prinsip “kalau bisa diselesaikan, buat apa disampaikan?”, dan kita terjebak pada prinsip-prinsip yang terkadang menyulitkan diri kita. Carai lah prinsip yang esensi… bukan sekedar egoisme yang dipaksakan.